Kamis, 16 Juli 2015

PELANGI

Entah kenapa kita berlima bisa deket dan selalu bareng kemana-mana, tapi kalau diinget-inget yaa diantara kita emang udah ada yang kenal satu sama lain. Nah, mulai dari situlah kita kalau di kelas duduknya selalu sampingan, kalau mau jajan, ke toilet, pulang, buat kelompok, selalu bareng. Emang sih baru setahun kenal mereka, tapi rasanya sama kayak kenal sahabat-sahabat yang lain, sayang + cinta hahahaha ngerasa nyambung aja sama mereka. Mereka itu easy going, bisa bawa suasana, kalau emang harus serius ya serius misalkan lagi belajar kelompok, tapi kalau lagi becanda yaa gitu deh. Yang paling penting sih mereka ada gak cuma pas lagi senengnya aja, tapi saat masa-masa sulit juga pasti mereka yang ada paling depan buat bantu, begitu pun sebaliknya. Inget banget pas file di flashdisk ilang padahal mau diprint dan hari itu deadline buat ngumpulin tugas, mereka yang bantu cari cara supaya bisa ngumpulin tugas hari itu juga. Waktu lagi galau, mereka jadi tempat curhat, yang mau dengerin curhat orang yang lagi nangis. Mereka juga care, selalu nanya, "udah makan belum, yi?" atau "makan nasi yi jangan cuma makan itu", yaa bisa dibilang berasa ada papa kalau lagi di kampus. Pokoknya sayang banget deh sama mereka({}) Oiya, sebenernya gaada niatan buat nama "Pelangi" itu loh, Pelangi itu sebenernya nama warung nasi yang ada di gang Pesangrahan, biasanya sebagai destinasi terakhir kalau kita bingung mau makan apa, soalnya disitu tuh murah terus juga buat kenyang dan yang ngidein ngasih nama "Pelangi" itu Hera. Harapan buat Pelangi, semoga bisa terus deket, makin deket dan selalu deket aamiin YRA O:)       


Diabsen yaa : yang pake kerudung abu-abu namanya Fitri anak Kampung utan, kerudung biru muda (di belakang) namanya Hanun anak Cikarang, kerudung ungu tua (belakang) namanya Ika anak Cikeas, kerudung ungu muda (depan) namanya Hera anak Pamulang dan yang di tengah pasti taulah yaa... :)

Selasa, 14 Juli 2015

....

Lagu ini recommended banget untuk didengar sambil dipahami pesan yang terkandung dilirik lagunya. Bagus banget buat memotivasi teman-teman yang baru putus atau kehilangan orang yang kalian suka untuk mengingatkan bahwa cinta-Nya lah yang abadi, jadi jangan galau lagi yaa guys;) Ini dia liriknya:)

Mencintai Kehilangan-Anandito Dwis 

 

Berjalan...
berlari...
hati tertindih...
sulit tapi harus aku putuskan

Jalanmu...
jalanku...
belum sempurna
biar masa depan yang sempurnakan

Suara-suara batinku
melepaskanmu
lirih-lirih jiwaku
membasuh pilu

Takdir yang Kau beri
menguji hatiku
terasa menyesakkan
kehilangan ini...

Tangis yang Kau memberi
membuka mataku
bahwa cinta yang sebenar cinta hanya ada SATU

Karena kehilangan ini
ku mampu mendekat kepadaMu

Daun terjatuh di hadapanku
belajar menerima
belajar menerima semuanya...

SEMESTER 3 YEAYYYY!!!

Alhamdulillah gak kerasa udah setahun belajar di UIN Jakarta, padahal rasanya baru kemarin ngerasain bangun pagi-pulang malem demi opak. Selama 2 semester ini bener-bener dapet banyak pengalaman mulai dari dosen yang ngajarnya asik sampe gak asik, dosen yang kalau ngajar buat ngerti mahasiswanya sampe buat mahasiswanya bingung, temen-temen kelas Fisika 2A yang keren abis lah pokoknya (perlu diingat, sekelas isinya 26 mahasiswa, dari sekian banyak mahasiswa, cowoknya cuma 2 orang), ditambah pengalaman-pengalaman field trip ke Bandung sama Pulau Tidung. Selama 2 semester ini juga ngerasain yang namanya "galau belajar", apa sih maksudnya? Jadi, mungkin suatu hal yang biasa untuk para maba ketika beralih dari SMA yang gurunya serba memberi dan masuk ke dunia kampus dimana kita dipaksa untuk lebih mandiri dalam belajar. Selama 2 semester itu belajar membagi waktu antara belajar, ngerjain tugas, ngajar sama main. Ditambah galau lagi kalau mendekati UTS atau UAS dan sebenernya belum ngerti materi sama sekali, disitulah belajar sks (sistem kebut semalam) terjadi. Tapi dengan segala hambatan itu alhamdulillah tidak berpengaruh untuk IPK semester 1, bisa dibilang lebih dari cukup dan sekarang sedang menunggu IPK semester 2, semoga hasilnya masih mendekati yang sebelumnya aamiinO:) Tentunya ada doa dan dukungan dari keluarga dibalik kelancaran kuliahku. Oya sedikit cerita aja nih, sebenernya waktu itu hampir kuliah di undip tapi karena mama lebih mau aku di UIN yasudah akhirnya undipnya dilepas, yaa soalnya kan ridhanya orangtua adalah ridhanya Allah, jadi semoga dengan mengikuti keinginan mama ini dapat memperlancar kuliahku sampai akhir nanti. Karena di UIN, juga dipertemukan dengan teman atau sahabat yang insya Allah selalu memberikan semangat positif , mereka adalah Hera Hanun Ika Fitri, pokoknya mereka yang pertama kali membantu setiap ada kesulitan. Lanjutan cerita tentang mereka di postingan selanjutnya ajaya:) Harapan untuk semester 3 yaa gak muluk-muluk ya, semoga dilancarin kuliahnya, cepet ngerti materi karena di semester 3 ini lebih banyak mata kuliah tentang fisika dibandingkan pendidikan dan IPKnya bagus + no more galau-_- aamiin YRA.

Ini foto saat Open Lab Bandung 2014, semester 1 

Foto setelah melakukan praktikum IPBA 
di Pulau Tidung bareng Fisika 2A, semester 2

     

Senin, 01 Juni 2015

PRESTASI BELAJAR

Ayat AL-Qur'an yang relevan dengan prestasi belajar terdapat dalam Q.S Az-Zumar ayat 9 :
"Katakanlah, adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakal-lah yang dapat menerima pelajaran".

PENGERTIAN PRESTASI BELAJAR

Gb. 1 : salah satu contoh prestasi adalah 
lulus dari jenjang sekolah

Menurut Hadari Nawawi, prestasi belajar adalah tingkatan keberhasilan dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes. Menurut Tohirin, prestasi belajar yang sering disebut juga hasil belajar yang artinya apa yang telah dicapai oleh suatu siswa setelah melakukan kegiatan belajar yang mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Jadi, prestasi belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki oleh siswa dalam menerima, menolak dan menilai informasi-informasi sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran, yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar. Tinggi rendahnya prestasi belajar siswa dapat diketahui setelah diadakan penilaian hasil belajar.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRESTASI BELAJAR 

Menurut Slameto ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, yaitu :
1. Faktor internal : 
a. faktor jasmani yang terdiri atas faktor kesehatan dan cacat tubuh
b. faktor psikologi yang terdiri atas inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kelemahan
Gb. 2 : motivasi dari dalam diri individu itu sendiri
2. Faktor eksternal :
a. faktor keluarga terdiri atas cara orangtua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga
Gb. 3 : pola asuh orangtua penentu prestasi seorang anak

b. faktor sekolah terdiri atas metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, disiplin, keadaan gedung dan tugas belajar
Gb. 4 : guru sedang mengajar di kelas

c. faktor masyarakat terdiri atas kegiatan siswa dalam masyarakat, media massa, teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat
Gb. 5 : teman penentu prestasi seorang anak

PENGERTIAN EVALUASI BELAJAR

Evaluasi belajar yaitu proses penilaian untuk menggambarkan prestasi yang dicapai seorang siswa sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. 
Gb. 6 : hasil dari evaluasi belajar

TUJUAN EVALUASI BELAJAR

a. Untuk mengetahui tingkat kemampuan yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu kurun waktu proses belajar tertentu
b. Untuk mengetahui posisi atau kedudukan seorang siswa dalam kelompok kelasnya
c. Untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan siswa dalam belajar
d. Untuk mengetahui segala upaya siswa dalam mendaya gunakan kapasitas kognitifnya untuk keperluan belajar
e. Untuk mengetahui tingkat daya guna dan hasil guna metode mengajar yang telah digunakan guru dalam proses belajar mengajar

RAGAM EVALUASI BELAJAR

1. Pre test dan post test
    Tujuan dilakukan pre test yaitu untuk mengidentifikasi taraf pengetahuan siswa mengenai bahan yang akan disajikan. Sedangkan tujuan dilakukan post test untuk mengetahui taraf penguasaan siswa atas materi yang telah diajarkan.
2. Evaluasi pra syarat
    Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi penguasaan siswa atas materi lama yang mendasari materi baru yang akan diajarkan.
3. Evaluasi diagnostik
    Evaluasi ini dilakukan setelah selesai penyajian sebuah satuan pelajaran dengan tujuan mengidentifikasi bagian-bagian tertentu yang belum dikuasai siswa. 
4. Evaluasi formatif
    Tujuannya ialah untuk memperoleh umpan balik yang mirip dengan evaluasi diagnostik, yaitu untuk mendiagnosis (mengetahui penyakit/kesulitan) belajar siswa.
5. Evaluasi sumatif
    Evaluasi sumatif kurang lebih sama dengan ulangan umum yang dilakukan untuk mengukur kinerja akademik atau prestasi belajar siswa pada akhir periode pelaksanaan program pengajaran.
6. UAN/UN
    Ujian Akhir Nasional atau Ujian Nasional pada prinsipnya sama dengan evaluasi sumatif dalam arti sebagai alat penentu kenaikan status siswa. 

PRINSIP EVALUASI BELAJAR

Menurut Wiyono dan Tumardi, prinsip-prinsip evaluasi pembelajaran adalah sebagai berikut :
a. Komprehensif. Artinya mencakup seluruh aspek pribadi siswa, baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. 
b. Mengacu pada tujuan. Tujuan merupakan kriteria utama yang menentukan arah kegiatan evaluasi.
c. Objektif. Artinya, evaluasi yang dilaksanakan memang benar-benar sesuai dengan kenyataan yang ada. 
d. Kooperatif.  Harus bekerja sama dengan semua pihak yang terlibat dalam kegiatan evaluasi.
e. Kontinuitas. Dilaksanakan secara terus-menerus atau berkesinambungan selama proses pelaksanaan pembelajaran.
f. Praktis, ekonomis dan mendidik.

MACAM-MACAM EVALUASI BELAJAR

A. Berdasarkan tujuan
a. Evaluasi diagnostik
b. Evaluasi selektif. Untuk memilih siswa yang paling tepat sesuai dengan kriteria program kegiatan tertentu.
c. Evaluasi penempatan. Untuk menempatkan siswa dalam program pendidikan tertentu yang sesuai dengan karakteristik siswa.
d. Evaluasi formatif
e. Evaluasi sumatif
B. Berdasarkan sasaran
a. Evaluasi konteks. Untuk mengukur konteks program baik mengenai rasional tujuan, latar belakang program, maupun kebutuhan-kebutuhan yang muncul dalam perencanaan.
b. Evaluasi input. Untuk mengetahui input baik sumber daya maupun strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan.
c. Evaluasi proses. Untuk melihat proses pelaksanaan, baik kelancaran proses, kesesuaian dengan rencana, faktor pendukung dan faktor hambatan yang muncul dalam proses pelaksanaan dan sejenisnya.
d. Evaluasi hasil. Untuk melihat hasil program yang dicapai sebagai dasar untuk menentukan keputusan akhir, diperbaiki, dimodifikasi, ditingkatkan atau dihentikan.
e. Evaluasi lulusan. Evaluasi lulusan setelah terjun ke masyarakat.
C. Berdasarkan lingkup kegiatan pembelajaran
a. Evaluasi program pembelajaran. Mencakup tujuan pembelajaran, isi program pembelajaran, strategi belajar mengajar, dan aspek-aspek lainnya.
b. Evaluasi proses pembelajaran. 
c. Evaluasi hasil pembelajaran
D. Berdasarkan objek
a. Evaluasi input. Mencakup kemampuan kepribadian, sikap dan keyakinan
b. Evaluasi transformasi. Mencakup materi, media, metode dan yang lainnya
c. Evaluasi output. 
E. Berdasarkan subjek
a. Evaluasi internal, misalnya guru.
b. Evaluasi eksternal, misalnya orangtua, masyarakat.

TES ESSAY DAN TES OBJEKTIF

Tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif (pilihan ganda, salahb-benar, soal melengkapi/completition, jawaban singkat). Tes essay adalah tes yang disusun dalam bentuk pertanyaan terstruktur dan siswa menyusun, mengorganisasikan sendiri jawaban tiap pertanyaan itu dengan bahasa sendiri. 

KELEBIHAN TES OBJEKTIF

a. Untuk menjawab tidak banyak memakan waktu
b. Reabilitasnya lebih tinggi kalau dibandingkan dengan tes essay
c. Cara menilainya lebih cepat dan mudah
d. Tidak mempedulikan penguasaan bahasa
e. Kevalidannya lebih tinggi dari tes essay karena samplingnya lebih luas

KEKURANGAN TES OBJEKTIF

a. Murid sering menerka-nerka dalam memberikan jawaban
b. Tidak bisa mengajak murid untuk berpikir taraf tinggi
c. Banyak memakan biaya, karena lembaran item-item test harus sebanyak jumlah pengikut test

KELEBIHAN TES ESSAY

a. Peserta didik dapat mengorganisasikan jawaban dengan pendapatnya sendiri
b. Tidak dapat menerka-nerka jawaban soal
c. Cocok untuk mengukur dan mengevaluasi hasil suatu proses belajar
d. Derajat ketepatan dan kebenaran dapat dilihat dari kalimat-kalimatnya
e. Jawaban diungkapkan dalam kata-kata dan kalimat sendiri
f. Dapat mengungkapkan satu hasil pemikiran yang terintegrasi secara utuh

KEKURANGAN TES ESSAY

a. Sukar dinilai secara tepat
b. Agak sulit unutk mengukur penguasaan siswa terhadap keseluruhan kurikulum
c. Sulit mendapatkan soal yang memiliki standar nasional maupun internasional
d. Membutuhkan waktu memeriksa hasilnya

KESIMPULAN

Prestasi belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki oleh siswa dalam menerima, menolak dan menilai informasi-informasi sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran, yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar. Faktor-faktor yang mempegaruhi belajar adalah faktor jasmani, psikologi, keluarga, sekolah dan masyarakat. Evaluasi belajar yaitu proses penilaian untuk menggambarkan prestasi yang dicapai seorang siswa sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Salah satu tujuannya adalah untuk mengetahui tingkat kemampuan yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu kurun waktu proses belajar tertentu. Prinsip evaluasi belajar adalah komprehensif, mengacu pada tujuan, objektif, kooperatif, kontinuitas, praktis, ekonomis dan mendidik. 

Contoh diagram hasil evaluasi belajar siswa


Menurut saya, kaitan prestasi belajar dengan fisika yaitu banyak peserta didik yang menyukai pelajaran fisika yang ditandai dengan bagusnya hasil evaluasi pembelajaran khususnya pada bidang fisika. Tidak hanya itu, ketika terjun langsung ke masyarakat mereka juga dapat mengaplikasikan ilmunya. Kaitannya dengan Islam yaitu seperti dalam petikan HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi : "Siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya jalan menuju surga". Jika kita terus menghasilkan prestasi dalam belajar yang baik maka Allah akan memudahkan jalan menuju surga. Kaitannya dengan psikologi adalah semakin berprestasi seorang anak maka semakin baik kemampuan kognitif, afektif dan psikomotoriknya.

REFERENSI

Jihad, Asep dan Abdul Haris. 2009. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta : Multi Pressindo
Wiyono, Bambang Budi dan Tumardi. 2003. Evaluasi Pembelajaran. Malang : Elang Mas
Nawawi, Hadari. 1998. Administrasi Sekolah. Jakarta :Galio Indonesia
Slameto. 1998. Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta
Tohirin. 2005. Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta : PT Raja Grafindo 

Minggu, 24 Mei 2015

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Gb.1 : anak berkebutuhan khusus

PENGERTIAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS 

Istilah anak berkebutuhan khusus merupakan terjemahan dari child with special needs , ada satu istilah yang berkembang secara luas telah digunakan yaitu difabel, kependekan dari diference ability. Jika pada istilah anak luar biasa menitik beratkan pada kondisi (fisik, mental, emosional) anak, maka pada berkebutuhan khusus lebih pada kebutuhan anak untuk mencapai prestasi sesuai dengan potensinya.

KLASIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Tuna netra
Gb. 2 : tuna netra
Tuna netra adalah gangguan daya penglihatan meskipun telah diberi pertolongan dengan alat-alat bantu. Karakteristik tuna netra :
a. tidak dapat melihat 
b. kerusakan nyata pada kedua bola mata
c. mata bergoyang terus
d. peradangan hebat pada kedua mata
e. kelainan pertumbuhan pada kedua mata

Tuna rungu
Gb. 3 : tuna rungu
Karakteristik tuna rungu :
a. tidak mendengar
b. tidak ada/terlambat dalam perkembangan bahasa
c. sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi
d. tidak/kurang tanggap terhadap suara atau bila diajak bicara
e. ucapan kata tidak jelas

Tuna wicara
Tuna grahita (sedang dan ringan)
Tuna daksa (sedang dan ringan)
Gb. 4 : tuna daksa
Karakteristik tuna daksa :
a. anggota-anggota gerak kaku/lemah/lumpuh
b. ada cacat pada alat gerak
c. kesulitan dalam gerakan-gerakan (kaku/tidak lentur/tak terkendali)
d. ada bagian-bagian anggota gerak yang tak lengkap/tak sempurna/lebih kecil dari biasa
e. jari-jari tangan kaku dan tidak bisa menggenggam

Tuna laras, HIV, AIDS, dan Narkoba
Autisme, Syndrom asperger
Gb. 5 : autisme
Autisme merupakan gangguan perkembangan sel-sel saraf yang tanpa diketahui penyebabnya. James Coplan menyatakan bahwa autisme muncul tanpa membedakan usia, tingkat kecerdasan dan status sosial. Gangguan spektrum autisme meliputi masalah sosial, bahasa dan fungsi perilaku. Autisme bervariasi dari ekspresi yang minimal (hipoaktif) hingga sangat ekspresif (hiperaktif). 
Orang-orang asperger cenderung memiliki intelegensi rata-rata dan sering memiliki keterampilan berkomunikasi yang lebih baik daripada anak-anak autis. 
Tuna ganda
Kesulitan belajar, lambat belajar (ADHD, disgrafia, dislexia, diskalkulia, dispraxia)
Gb. 6 : karakteristik anak ADHD

ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder) dapat diterjemahkan dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas Gejalanya sekilas mirip dengan autisme, tetapi memiliki kemampuan komunikasi dan interaksi sosial yang jauh lebih baik. 

Gb. 7: anak disleksia
Disleksia merupakan suatu kondisi yang terdapat di dalam segala tingkat kemampuan dan menyebabkan kesulitan yang terus-menerus dalam memperoleh kemampuan membaca dan menulis. Masalah yang dihadapi mencakup penyusunan urutan, pengorganisasian ucapan dan tulisan, pengendalian pengendalian motorik halus, kesulitan mengarahkan gerak, bunyi yang membentuk kata-kata, interpretasi kata dan persepsi.

Gb. 8 : anak diskalkulia
Diskalkulia berhubungan dengan kekurangan di dalam belajar matematika, kesulitan untuk mengerti dan mengingat konsep angka dan hubungan angka.
Dispraksia berhubungan dengan kemampuan untuk mengatur gerak. Masalah yang dihadapi mancakup masalah dengan bahasa, baik lisan maupun tertulis.   
Anak dengan gangguan disgrafia sebetulnya mengalami kesulitan dalam mengharmonisasikan ingatan dengan penguasaan gerak ototnya secara otomatis saat menulis huruf dan angka.
Gifted (IQ > 125) dan talented (bakat istimewa) serta indigo
Anak gifted memiliki intelegensi jauh di atas normal, dan perilaku mereka seringkali terkesan aneh. Biasanya kejeniusan anak gifted hanya pada suatu bidang tertentu. Gejalanya mirip dengan autisme.

PERMASALAHAN-PERMASALAHAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

1. proses pengolahan ilmu di otak relatif kurang
2. yang berintelegensi tinggi akan menghadapi kesulitan dalam pembelajaran normal
3. kesulitan mempertahankan perhatian, mudah buyar dan kurang kontrol diri
4. mengalami kesulitan mengurutkan aktivitas dan kurang kreatif
5. mempunyai keterbatasan komunikasi
6. sulit menerima aksi orang lain
7. Memori yang pendek sehingga mudah lupa

KESIMPULAN

Ada satu istilah yang berkembang secara luas telah digunakan yaitu difabel, kependekan dari diference ability. Jika pada istilah anak luar biasa menitik beratkan pada kondisi (fisik, mental, emosional) anak, maka pada berkebutuhan khusus lebih pada kebutuhan anak untuk mencapai prestasi sesuai dengan potensinya. Klasifikasi anak berkebutuhan khusus adalah tuna netra, tuna rungu, tuna wicara, tuna daksa, tuna laras, autisme, ADHD, disgrafia, disleksia, diskalkulia, dispraksia, anak gifted serta indigo. Permasalahan anak berkebutuhan khusus antara lain proses pengolahan ilmu di otak relatif kurang, mudah buyar dan kurang kontrol diri, mudah lupa dan mempunyai keterbatasan komunikasi. 

REFERENSI

Ginintasasi, Rahayu. 2009. Proses Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus. http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI/195009011981032RAHAYU_GININTASASI/Proses_Pembelajaran_ABKx.pdf
Mahabbati, Aini. 2013. Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus. http://staff.uny.ac.id/dosen/aini-mahabbati-spd-ma
Suparno, dkk. 2007. Pendidikan Anak Kebutuhan Khusus. Jakarta : Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional

Menurut saya, kaitan anak berkebutuhan khusus dengan pembelajaran fisika adalah guru di kelas harus lebih sabar dalam mendidiknya karena kurang fokusnya anak berkebutuhan khusus ketika belajar. Kaitannya dengan Islam adalah Islam tidak membeda-bedakan semua manusia karena yang membedakan di mata Allah swt. adalah ketakwaannya. Kaitannya dengan psikologi adalah kondisi psikis anak berkebutuhan khusus dalam lingkungan sosialnya karena mungkin ada saja orang lain yang mengejek atau mengacuhkan keberadaannya. Jadi, siapapun yang bertemu dengan anak berkebutuhan khusus sebaiknya jangan memandang rendah orang itu.     

Terdapat salah satu anak berkebutuhan khusus yang bernama Rifki. Anak tersebut sekarang sudah duduk di bangku kelas 11. Ketika SD, Rifki diajar oleh mama saya. Rifki dianggap sebagai salah satu anak berkebutuhan khusus karena dia tidak mudah fokus ketika belajar. Rifki hanya tertarik pada pelajaran agama, menggambar dan sejarah, selain ketiga pelajaran tersebut, dia tidak fokus untuk belajar. Ketika teman-temannya sedang belajar, Rifki lebih senang untuk mengganggu teman-temannya  atau tidur. Dalam berhubungan sosial dengan teman-temannya, dia cukup baik dalam berkomunikasi hanya saja teman-temannya menganggap dia aneh sehingga Rifki sedikit dijauhi oleh teman-temannya.

Minggu, 17 Mei 2015

Contoh Klasifikasi Taksonomi Bloom dalam RPP


Ranah Kognitif (C)
Contoh :
Mendefinisikan massa jenis zat sebagai sifat khusus zat (C5)
Merumuskan massa jenis zat (C5)
Mengkonversikan satuan massa jenis zat (C2)
Menghitung massa jenis suatu zat (C2)
Membedakan fluida statis dan fluida dinamis (C2) 
Menyebutkan contoh penerapan fluida statis dalam kehidupan sehari-hari (C1)
Menemukan alasan bahan yang tepat untuk digunakan dalam pembuatan kapal selam sederhana (C4)
Menceritakan dalam bentuk tulisan hukum pokok hidrostatis dan hukum Pascal pada bejana berhubungan (Mengemukakan-C2)
Merencanakan percobaan dengan hukum Pascal (C5)
Melaksanakan percobaan dengan hukum Pascal (C3)

Ranah Afektif (A)
Contoh :
Mengembangkan perilaku (jujur,disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerja sama, cinta damai, responsif dan pro aktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia (A5)

Menurut saya, RPP ini sudah cukup bagus. Namun, kurangnya ranah psikomotor membuat RPP ini menjadi kurang baik. Karena penting untuk menyeimbangkan antara ranah kognitif, afektif dan psikomotor agar menghasilkan lulusan yang mampu untuk melakukan segala kegiatan yang ada di ranah kognitif, afektif dan psikomotor.


KREATIVITAS

Pengertian Kreativitas

A. Pengertian kreativitas menurut para ahlinya :

Menurut Barron, kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru disini bukan berarti harus sama sekali baru, tetapi dapat juga sebagai kombinasi dari unsur-unsur yang telah ada sebelumnya. Menurut Guilford, kreativitas mengacu pada kemampuan yang menandai ciri-ciri orang kreatif. Utami Munandar mengatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan dan orisinalitas dalam berpikir serta kemampuan untuk mengelaborasi suatu gagasan. Jadi, kreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau konsep baru, atau hubungan baru antara gagasan dan konsep yang sudah ada.
Gb.1 : Kreativitas bukan pilihan. 
Kreativitas adalah hal yang diperlukan.
Ayat Al-Qur'an yang menerangkan tentang perintah kreativitas secara tersirat terdapat dalam Q.S Al-Baqarah ayat 219, Allah berfirman : "Demikianlah, Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya, agar kamu berpikir" (Q.S Al-Baqarah [2] : 219)
Ayat di atas memberikan penjelasan bahwa sebenarnya Islam pun dalam hal ke-kreativitas-an memberikan kelapangan pada umatnya untuk berkreasi dengan akal pikirannya dan dengan hati nuraninya (qalbunya) dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidup di dalamnya. Bahkan, tidak hanya cukup sampai disini, dalam Al-Qur'an sendiri pun tercatat lebih dari 640 ayat yang mendorong pembacanya untuk berpikir kreatif.

Perkembangan Kreativitas

Tahap Sensorik-Motorik (0-2 tahun)

Pada tahap inii belum memiliki kemampuan untuk mengembangkan kreativitasnya. Sebab, pada tahapini tindakan-tindakan anak masih berupa tindakan-tindakan fisik yang bersifat refleksif, pandangannya terhadap objek masih belum permanen, belum memiliki konsep tentang ruang dan waktu, belum memiliki konsep tentang sebab-akibat, bentuk permainannya masih merupakan pengulangan reflek-reflek, belum memiliki konsep tentang diri, ruang dan belum memiliki kemampuan berbahasa. 

Tahap Pra Operasional (2-7 tahun)

Pada tahap ini kemampuan mengembangkan kreativitassudah mulai tumbuh karena anak sudah mulai mengembangkan memori dan telah memiliki kemampuan untuk memikirkan masa lalu dan masa yang akan datang, meskipun dalam jangka waktu yang pendek.

Tahap Operasional Konkret (7-11 tahun)

Faktor-faktor yang memungkinkan semakin berkembanganya kreativitas itu adalah :
a. Anak sudah mulai mampu untuk menampilkan operasi-operasi mental
b. Mulai mampu berpikir logis dalam bentuk yang sederhana
c. Mulai berkembang kemampuan untuk memelihara identitas-identitas diri
d. Konsep tentang ruang sudah semakin luas
e. Sudah amat meyadari akan adanya masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang
f. Sudah mampu mengimajinasikan sesuatu, meskipun biasanya masih memerlukan bantuan objek-objek konkret

Tahap Operasional Formal (11 tahun ke atas)

Ada beberapa faktor yang mendukung berkembangnya potensi kreativitas ini, yakni :
a. Remaja sudah mampu melakukan kombinasi tindakan secara proporsional berdasarkan pemikiran logis
b. Remaja sudah mampu melakukan kombinasi objek-objek secara proporsional berdasarkan pemikiran logis
c. Remaja sudah memiliki pemahaman tentang ruang relatif
d. Remaja sudah memiliki pemahaman tentang waktu relatif
e. Remaja sudah mampu melakukan pemisahan dan pengendalian variabel-varibel dalam menghadapi masalah yang kompleks
f. Remaja sudah mampu melakukan abstraksi relatif dan berpikir hipotesis
g. Remaja sudah memiliki diri ideal
h. Remaja sudah menguasai bahasa abstrak

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kreativitas

Faktor Internal Individu

Gb. 2 : faktor internal kreativitas
a. Kebutuhan terhadap pengalaman dan rangsangan dari luar atau dari dalam individu
b. Evaluasi internal, yaitu kemampuan individu dalam menilai produk yang dihasilkan ciptaan seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri, bukan karena kritik dan pujian dari orang lain
c. Kemampuan untuk bermain dan mengadakan eksplorasi terhadap unsur-unsur, bentuk-bentuk, konsep atau membentuk kombinasi baru dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya

Faktor Eksternal (Lingkungan)

Gb. 3 : salah satu faktor eksternal kreativitas adalah keluarga
 
Faktor eksternal (lingkungan) yang dapat mempengaruhi kreativitas individu adalah lingkungan kebudayaan yang mengandung keamanan dan kebebasan psikologis. Peran kondisi lingkungan mencakup lingkungan dalam arti kata luas yaitu masyarakan dan kebudayaan. Kebudayaan dapat mengembangkan kreativitas jika kebudayaan itu memberikan kesempatan adil bagi pengembangan kreativitas potensial yang dimiliki anggota masyarakat. 

Faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas menurut Hurlock adalah :
a. Jenis kelamin. Kreativitas laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan, terutama setelah berlalunya masa kanak-kanak
b. Status sosioekonomi. Anak dari kelompok sosioekonomi yang lebih tinggi cenderung lebih kreatif dari pada yang rendah
c. Urutan kelahiran. Anak dari berbagai urutan kelahiran menunjukkan tingkat kreativitas yang berbeda
d. Ukuran keluarga. Anak dari keluarga kecil bilamana kondisi lain sama cenderung lebih kreatif dari pada anak dari keluarga besar
e. Lingkungan. Anak yang tinggal di lingkungan kota cenderung lebih kreatif dari pada anak yang tinggal di lingkungan desa
f. Intelegensi. Setiap anak yang lebih pandai menunjukkan kreativitas yang lebih besar dari pada anak yang kurang pandai

Upaya Mengembangkan Kreativitas dan Implikasinya dalam Pendidikan 

1. Pembimbing berusaha memahami pikiran dan perasaan anak
2. Pembimbing mendorong anak untuk mengungkapkan gagasan-gagasannya tanpa mengalami hambatan
3. Pembimbing lebih menekankan pada proses dari pada hasil sehingga pembimbing dituntut mampu memandang permasalahan anak sebagai bagian dari keseluruhan dinamika perkembangan dirinya
4. Pembimbing tidak memaksakan pendapat, pandangan atau nilai-nilai tertentu kepada anak
5. Pembimbing berusaha mengeksplorasi segi-segi positif yang dimiliki anak dan bukan sebaliknya mencari kesalahan anak.
Gb. 4 : kreativitas membolehkan dirimu untuk melakukan kesalahan. 
seni adalah sesuatu yang harus dijaga.

Kesimpulan

Kreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau konsep baru, atau hubungan baru antara gagasan dan konsep yang sudah ada. Tahapan perkembangan kreativitas, yaitu tahap sensorik-motorik (0-2 tahun), tahap pra operasional (2-7 tahun), tahap operasional konkret (7-11 tahun), dan tahap operasional formal (11 tahun ke atas). Faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas dibedakan atas faktor internal dan eksternal.

Menurut saya, kaitan kreativitas dalam belajar fisika adalah dengan membiarkan siswa untuk belajar dengan caranya masing-masing sekreatif mungkin, entah seperti menguraikan konsep-konsep fisika melalui gambar atau mengembangkan ide-ide dengan membuat alat fisika. Kaitan kreativitas dengan Islam seperti pada Q.S Ar-Ra'd ayat 11, "Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Kaitannya adalah dengan kreativitas yang kita miliki, kita dapat mengubah nasib hidup menjadi lebih baik lagi. Kaitan kreativitas dengan psikologi adalah berhubungan dengan pola pikir manusia yang semakin baik karena dengan kreativitas dapat meningkatkan kualitas pola pikir kita. 

REFERENSI

Munandar, Utami. 1992. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Munandar, Utami. 2004. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta : PT Asdi Mahasatya
Semiawan, Conny R. 1999. Perkembangan dan Belajar Peserta Didik. Jakarta : Direktoran Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar Departemen Pendidikan dan Kebudayaan